16 Tahun Mengenal Sosok Dr. Ir. Priyono Eko Sanyoto, DEA: Bapak, Guru, dan Teladan



Januari 2010 menjadi awal perkenalan saya dengan sosok yang begitu berarti dalam perjalanan hidup dan karier saya, Bapak Priyono Eko Sanyoto—yang akrab kami panggil Pak Eko. Saat itu, saya baru saja mengabdikan diri di salah satu kampus swasta di Batam yaitu Poltek Batam. Nama beliau sudah lebih dulu saya dengar dari cerita rekan-rekan pengajar—tentang sosok pemimpin yang cerdas, visioner, dan penuh dedikasi.

Namun, semua cerita itu terasa jauh berbeda ketika saya benar-benar berinteraksi langsung dengan beliau. Kala itu, saya berkesempatan berinteraksi sebagai bagian dari tim humas. Jujur, saya membayangkan sosok pimpinan yang kaku, formal, dan penuh jarak. Tapi Pak Eko justru sebaliknya. Beliau hadir dengan kesederhanaan yang hangat—tidak berjarak, mudah menyapa, dan bahkan mampu mengenali kami satu per satu. Tidak ada sekat antara pimpinan dan staf. Kami merasa dekat, dihargai, dan dianggap sebagai bagian penting dari perjalanan institusi.

Hal-hal kecil justru yang paling membekas. Beliau tidak suka dibukakan pintu saat satu mobil bersama. Sebuah sikap sederhana, tapi sarat makna—bahwa beliau adalah pemimpin yang membumi.

Dalam setiap kegiatan, Pak Eko selalu responsif dan mampu menyesuaikan diri dengan situasi. Beliau juga sangat terbuka terhadap ide-ide baru, khususnya dalam bidang kehumasan. Banyak gagasan yang beliau sampaikan kepada kami—bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk diwujudkan. Dan yang luar biasa, ide-ide itu benar-benar beliau realisasikan dalam bentuk kebijakan kampus.

Beliau memiliki satu visi besar yang selalu diulang dan diperjuangkan:
bahwa Polibatam harus menjadi rumah bagi anak-anak Kepulauan Riau untuk belajar, berkembang, dan siap menjawab kebutuhan dunia kerja di Batam dan sekitarnya.

Salah satu terobosan yang begitu saya kagumi adalah bagaimana beliau memperjuangkan pengakuan atas prestasi mahasiswa. Prestasi di tingkat lokal, nasional, hingga internasional tidak hanya diapresiasi secara simbolis, tetapi juga diakui sebagai nilai akademik, bahkan menjadi reward nyata seperti bebas Tugas Akhir dengan syarat pelaporan. Sebuah langkah berani di tengah sistem pendidikan tinggi yang masih kaku dengan administrasi.

Di balik ketegasan dan visi besarnya, Pak Eko juga sosok yang sederhana dalam keseharian. Beliau memiliki makanan favorit yang sangat membumi—asam pedas dan kepala kakap di salah satu warung di kawasan Winsor, Nagoya. Pada tahun 2010 hingga 2014, saya bahkan beberapa kali ikut bersama Mas Ferry membeli makan siang untuk beliau di sana, terutama saat tidak ada jamuan resmi dalam suatu kegiatan. Momen-momen sederhana itu kini terasa begitu berharga—bukan sekadar tentang makanan, tetapi tentang kebersamaan dan ketulusan seorang pemimpin.

Ada pula hal-hal kecil yang menunjukkan kepedulian beliau terhadap hal yang lebih luas. Saya masih ingat, suatu Jumat siang menjelang salat Jumat, beliau pernah membagikan sebuah konten sederhana tentang penghematan BBM—sebuah video bus yang “bergerak” bukan dengan bahan bakar, melainkan didorong oleh para penumpangnya. Sekilas terlihat ringan, namun dari sana terlihat bagaimana beliau selalu mengajak kita untuk berpikir lebih bijak, sederhana, dan peduli terhadap lingkungan.

Kecintaan beliau terhadap olahraga juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kesehariannya. Bersepeda adalah salah satu kegemaran utamanya. Bahkan ketika beliau menjalankan tugas di kampus lain seperti Polines, beliau tak segan meminjam sepeda dari rekan yang mengenalnya hanya untuk tetap berolahraga. Dan jika tidak ada sepeda di hotel tempat beliau menginap, beliau tetap menjaga rutinitasnya—berlari pagi selepas Subuh. Disiplin dan konsistensi yang beliau tunjukkan menjadi teladan nyata bagi kami semua.

Di sisi lain, Pak Eko juga sosok yang penuh warna. Dalam beberapa tahun terakhir, interaksi kami sering diwarnai dengan cerita tentang gaya hidup sehat hingga kecintaannya pada kopi. Beliau begitu mendalam memahami dunia kopi—dari teknik penyeduhan hingga jenis-jenis kopi terbaik. Rasanya, pengetahuan beliau bisa menyaingi para barista profesional.

Dan pada Sabtu pagi, 11 April 2026,
langit Batam terasa sedikit mendung. Sebuah kabar duka muncul di grup WhatsApp. Hati saya bergetar. Saya memperbesar foto di layar ponsel, mencoba memastikan kebenarannya. Namun, semakin jelas terlihat, semakin tak mampu saya berkata-kata. Tangan terasa kaku, pikiran kosong.

Saya hanya bisa terdiam… dan berbisik dalam hati,
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kenangan demi kenangan kembali hadir.
Termasuk saat beliau pernah berkata,
“Mas, kamera humas harus bagus. Kalau perlu ajukan yang baru. Website Polibatam juga harus bagus, supaya bisa dilihat orang luar negeri.”

Kalimat sederhana, tapi penuh visi jauh ke depan.

Pak Eko bukan hanya seorang pemimpin.
Beliau adalah guru yang mengajarkan dengan teladan,
seorang bapak yang membimbing dengan kasih,
dan seorang mentor yang selalu memberi ruang bagi ide-ide kami untuk tumbuh.

Gagasan dan dedikasi beliau dalam mengembangkan pendidikan vokasi telah membawa Polibatam dikenal luas, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional hingga internasional.

Hari ini, kita kehilangan sosok besar.
Namun ilmu, nilai, dan jejak perjuangan beliau akan terus hidup—menjadi amal jariyah yang tak terputus.

Selamat jalan, Pak Eko.
Semoga husnul khotimah.

Al-Fatihah… 🤍


Ridwan Purwanto, S. Sos., M.I.Kom


Comments

Popular posts from this blog

Paket Hemat Menjelang Akhir Tahun, Ingin Menikah?

Jasa Rias Pengantin Adat dan Modern Terbaik di Batam – Ella Rias Pengantin

5 Rahasia Utama Agar Hari Pernikahan Jadi Momen Tak Terlupakan — Bareng Ella Rias Pengantin!